Semakin modern,
semakin maju ke depan, kita, generasi penerus bangsa, malah semakin terpuruk.
Moral yang hampir tidak ada lagi, juga sikap ‘respect’ terhadap sesama. Salah
satunya, bullying, kasus yang dialami hampir semua anak, mungkin semuanya.
Entahlah, ini kesalahan globalisasi atau takdir yang sedang berbicara?
Apa
yang terbesit di pikiranmu ketika mendengar kata ‘bullying’? Kekerasan fisik?
Ya, tapi, kekerasan fisik bukanlah satu-satu nya yamg terjadi dalam kasus-kasus
bullying yang ‘membunuh’. Kata-kata yang menyakitkan juga termasuk salah satu
kasus bullying. Kita semua disini pasti pernah olok-olok teman kita dengan
kata-kata yang kurang pantas, baik secara langsung, ataupun tidak. Namun,
apakah kalian tahu rasanya menjadi dia? Mungkin kalian tahu, tapi, kalian tidak
pernah berpikir tentang perasaan dia.
Ada
beberapa alasan mengapa bullying terjadi di kalangan sekolah (sebenarnya, tidak
hanya di sekolah, di hampir semua lingkungan sosial). Yang pertama, karena korban
mungkin melakukan suatu kesalahan, yang sangat berpengaruh bagi lingkungannya.
Walaupun itu bukan kesalahan dia sepenuhnya. Everyone makes mistakes, tetapi kita hidup bukan untuk kesalahan,
kita hidup untuk memperbaiki kesalahan itu. Kamu boleh menyiapkan 100 kantung
muntah setelah membaca ini, tapi, ini kenyataan.
Yang
kedua, si tukang bully yang ‘gila’ akan kepopuleran. Tujuan mereka adalah untuk
mendapatkan kepopuleran. Dengan begitu, dia mungkin merasa kalau dia itu kuat
dan berkuasa atas yang semua murid, otomatis, dia merasa dia dikenal semua
orang dan juga diperhatikkan semua orang. Padahal, kenyataannya berbeda. Dia
malah tidak disukai.
“Hiburan
semata” adalah alasan yang terakhir yang saya dapatkan dari hasil survey saya.
Memang sih, kita perlu hiburan. Tapi, bukan berarti kita harus mengolok-ngolok
salah satu teman kita dan kemudian tertawa atas semua itu. Kalau hanya sekali
atau dua kali sih tidak apa, tetapi, kalau setiap hari? Jangan egois! Tertawa
itu untuk kesenangan semua orang, bukan cuma kamu saja.
Kamu
akan memanggil mereka ‘si lemah’ karena mereka tidak pernah menanggapi sikap mu
itu (bullying). Kamu pasti berpikir mereka takut akan kamu. Padahal, mereka
bukan takut, mereka itu bodoh. Tapi ternyata kamu salah. Mereka bahkan lebih
pintar dari kamu. Hukum Karma. Ya, aku yakin kamu pasti tahu. “Kamu akan
mendapatkan apa yang kamu pernah berikan”. Mereka mengerti mengenai hal itu,
makanya mereka diam dan tidak memperdulikan olok-olokkan kamu. Mereka patut
diacungi jempol, karena, bertahan di tengah kata-kata yang menyakitkan itu
bukanlah hal yang mudah.
Bullying
itu salah satu aksi pembunuhan karakter. Bagaimana tidak? Bayangkan, setiap
hari anak itu diolok-olok oleh lingkungan sekitarnya. Anak itu pun tidak tahan
lagi dan akhirnya memutuskan untuk ‘home-schooling’. Kalian tahu kan keadaan di
‘home-schooling’? Hanya ada dia dan guru privat nya. Dengan begitu, dia pasti
jarang sekali bersosialisasi dengan anak yang lain. Saat dia untuk keluar dari
‘kandangnya’, dia tidak terbiasa bersosialisasi. Ketika semuanya hancur, siapa
yang akan disalahkan?
Selain
pembunuhan karakter, bullying juga penyumbang angka kematian yang besar. Banyak
orang yang meninggal karena tidak tahan atas perlakuan lingkungan sekitarnya.
Banyak yang putus asa karena merasa dirinya begitu rendah di mata orang lain,
dia mengambil jalan pintas, ya, bunuh diri.
Saat
ini, banyak orang yang telah terbuka matanya untuk kasus-kasus bullying.
Bahkan, banyak selebribtis yang ikut berpartisipasi dalam memberantas kasus
bullying ini di kalangan sekolah. Mereka menyumbang karya mengenai kasus
bullying, misalnya, lagu ‘Mean’ oleh Taylor Swift, ‘Purple Sky’ oleh Greyson
Chance, dan masih banyak lagi.
Kita
juga bisa kok ikut berpartisipasi untuk menghentikan semua ini. Mungkin, kita
tidak bisa membantu secara langsung. Terkadang, kita yang membantu malah kita
yang di-bully. Kita dapat memulai dari diri kita sendiri untuk berhenti meledek
teman kita dengan kata-kata yang menyakitkan, kita sudah ikut berpartisipasi
terhadap ini.
Semakin modern,
semakin maju ke depan, kita, generasi penerus bangsa, malah semakin terpuruk.
Moral yang hampir tidak ada lagi, juga sikap ‘respect’ terhadap sesama. Salah
satunya, bullying, kasus yang dialami hampir semua anak, mungkin semuanya.
Entahlah, ini kesalahan globalisasi atau takdir yang sedang berbicara?
Apa
yang terbesit di pikiranmu ketika mendengar kata ‘bullying’? Kekerasan fisik?
Ya, tapi, kekerasan fisik bukanlah satu-satu nya yamg terjadi dalam kasus-kasus
bullying yang ‘membunuh’. Kata-kata yang menyakitkan juga termasuk salah satu
kasus bullying. Kita semua disini pasti pernah olok-olok teman kita dengan
kata-kata yang kurang pantas, baik secara langsung, ataupun tidak. Namun,
apakah kalian tahu rasanya menjadi dia? Mungkin kalian tahu, tapi, kalian tidak
pernah berpikir tentang perasaan dia.
Ada
beberapa alasan mengapa bullying terjadi di kalangan sekolah (sebenarnya, tidak
hanya di sekolah, di hampir semua lingkungan sosial). Yang pertama, karena korban
mungkin melakukan suatu kesalahan, yang sangat berpengaruh bagi lingkungannya.
Walaupun itu bukan kesalahan dia sepenuhnya. Everyone makes mistakes, tetapi kita hidup bukan untuk kesalahan,
kita hidup untuk memperbaiki kesalahan itu. Kamu boleh menyiapkan 100 kantung
muntah setelah membaca ini, tapi, ini kenyataan.
Yang
kedua, si tukang bully yang ‘gila’ akan kepopuleran. Tujuan mereka adalah untuk
mendapatkan kepopuleran. Dengan begitu, dia mungkin merasa kalau dia itu kuat
dan berkuasa atas yang semua murid, otomatis, dia merasa dia dikenal semua
orang dan juga diperhatikkan semua orang. Padahal, kenyataannya berbeda. Dia
malah tidak disukai.
“Hiburan
semata” adalah alasan yang terakhir yang saya dapatkan dari hasil survey saya.
Memang sih, kita perlu hiburan. Tapi, bukan berarti kita harus mengolok-ngolok
salah satu teman kita dan kemudian tertawa atas semua itu. Kalau hanya sekali
atau dua kali sih tidak apa, tetapi, kalau setiap hari? Jangan egois! Tertawa
itu untuk kesenangan semua orang, bukan cuma kamu saja.
Kamu
akan memanggil mereka ‘si lemah’ karena mereka tidak pernah menanggapi sikap mu
itu (bullying). Kamu pasti berpikir mereka takut akan kamu. Padahal, mereka
bukan takut, mereka itu bodoh. Tapi ternyata kamu salah. Mereka bahkan lebih
pintar dari kamu. Hukum Karma. Ya, aku yakin kamu pasti tahu. “Kamu akan
mendapatkan apa yang kamu pernah berikan”. Mereka mengerti mengenai hal itu,
makanya mereka diam dan tidak memperdulikan olok-olokkan kamu. Mereka patut
diacungi jempol, karena, bertahan di tengah kata-kata yang menyakitkan itu
bukanlah hal yang mudah.
Bullying
itu salah satu aksi pembunuhan karakter. Bagaimana tidak? Bayangkan, setiap
hari anak itu diolok-olok oleh lingkungan sekitarnya. Anak itu pun tidak tahan
lagi dan akhirnya memutuskan untuk ‘home-schooling’. Kalian tahu kan keadaan di
‘home-schooling’? Hanya ada dia dan guru privat nya. Dengan begitu, dia pasti
jarang sekali bersosialisasi dengan anak yang lain. Saat dia untuk keluar dari
‘kandangnya’, dia tidak terbiasa bersosialisasi. Ketika semuanya hancur, siapa
yang akan disalahkan?
Selain
pembunuhan karakter, bullying juga penyumbang angka kematian yang besar. Banyak
orang yang meninggal karena tidak tahan atas perlakuan lingkungan sekitarnya.
Banyak yang putus asa karena merasa dirinya begitu rendah di mata orang lain,
dia mengambil jalan pintas, ya, bunuh diri.
Saat
ini, banyak orang yang telah terbuka matanya untuk kasus-kasus bullying.
Bahkan, banyak selebribtis yang ikut berpartisipasi dalam memberantas kasus
bullying ini di kalangan sekolah. Mereka menyumbang karya mengenai kasus
bullying, misalnya, lagu ‘Mean’ oleh Taylor Swift, ‘Purple Sky’ oleh Greyson
Chance, dan masih banyak lagi.
Kita
juga bisa kok ikut berpartisipasi untuk menghentikan semua ini. Mungkin, kita
tidak bisa membantu secara langsung. Terkadang, kita yang membantu malah kita
yang di-bully. Kita dapat memulai dari diri kita sendiri untuk berhenti meledek
teman kita dengan kata-kata yang menyakitkan, kita sudah ikut berpartisipasi
terhadap ini.